“Ingat-ingatlah kalian hai penulis-penulis belia; bila kalian memilih jalan sunyi ini, maka kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus bekerja, terus menulis dan bersiap untuk hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tidak akan berpikir untuk bunuh diri cepat.“
Kulakukan ini semuanya deminya, yang bukan orang besar, yang hanya orang kecil. Aku sudah tidak percaya dengan Socrates saat ia mengatatakan hanya orang-orang besar yang patut menjadi tragedi untuk menjadi teladan keagungan martabat, sementara rakyat kebanyakan hanya pantas menjadi tokoh-tokoh komedi, untuk menjadi bahan olok-olok.
Hanya tulisan tentang orang kecil dan ambisi yang tak kalah kecilnya: ingin tetap menulis, ingin tetap membaca dan ingin tetap bekerja, dan bersiap-siap hidup miskin.
Pramudya Ananta Toer,
Menulislah. Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah
(Rumah Kaca; hal 325). Kotabumi, 8 April 2009
.........................................................
Hito tak percaya pada lembaga pernikahan, namun tantangan Kiori princess untuk membuktikannya tak bisa ditolak. Maka mereka pun melakukan simulasi pernikahan.
ku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah,” gerutuku.
Kiori tertawa. “Ibumu menanyakan calonmu lagi?”
Aku mengangguk cemberut.
“Apa jawaban mu kali ini?” godanya.
“Aku tidak menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk kekamar.”
Kitori terbahak. “Kau kekanak-kanakan,” katanya.
“Habis jawaban apalagi yang mesti kuberikan, ri? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan ibuku malah makin gencar menteror.”
kitori tersenyum. “Kau benar-benar seperti anak-anak. Kalau kau jadi ibumu, apa kau tidak akan blingsatan kalau anakmu belum juga menikah pada usia tiga puluh tiga.”“
Aku akan sangat gembira kalau anakku tidak menikah seumur hidupnya,”komentarku.
Alis kitori terangkat. “Kenapa?”
“Pernikahan hanya memperumit hidup laki .”
“Pernikahan juga membuat hidup perempuan lebih sulit.”“
Persis!” potongku. “Untuk apa menikah kalau yang kita dapat hanyakesulitan?”“
Mungkin karena kesulitan itu hanya efek sampingnya, sementara ke untungannya lebih banyak?”“
Sok tahu,” cibirku.
“Kau sendiri belum menikah. Apa yang kau tahu tentang keuntungan menikah.”
“Aku sudah cukup banyak belajar, Pit. Umurku sendiri sudah tiga puluhlima, kebanyakan teman-temanku sudah berkeluarga.”“
Tapi kau tidak! Akui sajalah. Kau setuju kan kalau hidup sudah cukup pelik tanpa perlu lagi menikah?”
kitori tersenyum. “Ya, memang.”“Lebih enak hidup seperti ini. Bebas!”
“Setuju. Tapi ingat, aku bukan sama sekali tidak mau menikah, lho. Akuhanya masih menunggu calon yang pas.”
Dan aku menghela nafas panjang.“Ah, ya. Calon.”1
“Itu kan sebenarnya alasanmu untuk tidak juga menikah?”
“Ya, ” gumamku enggan.
“Bukan karena kau sama sekali anti menikah.”Aku menggeleng.
“Jangan bilang siapa-siapa, tapi kadang-kadang aku kepingin juga digandeng seseorang saat datang ke pesta.”
“Tapi kau bisa saja bergandengan dengan salah satu pacarmu kan?”
“Gandengan pacar itu lemah. Gampang putus,” komentarku pahit.
“Maksudku,aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana pun aku pergi.”
“Apa susahnya menggaji orang yang mau menggandeng tanganmu ke mana-mana?Ini zaman susah. Banyak pengangguran.”
“Toriii!” kuayunkan tanganku,
tapi —-begitu hapalnya ia dengan reaksiku ia menghindar sambil tertawa.
“Kau sadar kan kalau menikah itu lebih dari sekadar mengontrak penggandeng tetap?” tanyanya kemudian, lebih serius.
“Ya. Justru itu. Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan orang yang salah.
Kalau saja,” aku terdiam.
“Apa?”
“Kalau saja aku bisa yakin bahwa perempuan itu akan tetap manis dan baikhati setelah ia berhasil menikahiku.
Bagaimana seorang laki-laki bisatahu kalau perempuan yang dirayunya ternyata istri yang payah? Yang suka mencaci maki, Menghina; orangnya pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat.”
“Hito, perempuan yang begitu sedikit sekali.” Aku menggeleng. “.”“Bagaimana dengan aku? ......
...Hito lelaki pemikir, keras dan tak pernah henti untuk mencari jati dirinya..prinsipil dan ambisius dari sebuah mimpinya dia mulai berjalan..
..Kiori Princess sahabat terindah hito, lembut, humoris dengan pandangan terhebatnya, keindahan hatinya dan kesabarannya untuk terus menyakinkan hito......
dari sebuah dusun hitam mereka mulai mencari titik terang....1998 - 2007..